• info@pesisirselatan.go.id
  • Hours: Mon-Fri: 8am – 4pm
Dampak Banjir Pessel Kian Parah: Ribuan Hektare Lahan Pertanian Rusak

29 November 2025

64 kali dibaca

Dampak Banjir Pessel Kian Parah: Ribuan Hektare Lahan Pertanian Rusak

PESISIR SELATAN, - Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Pesisir Selatan selama beberapa hari terakhir tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga menghantam sektor pertanian dan peternakan. Banjir yang meluas sejak 23 hingga 27 November 2025 menyebabkan tanaman warga terendam dan ternak hanyut terbawa arus.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Pesisir Selatan, Mardianto, merilis data terkini terkait kerusakan lahan pertanian dan hewan ternak yang terdampak bencana tersebut. Menurutnya, dampak banjir tahun ini cukup besar karena sebaran bencana mencapai hampir seluruh wilayah sentra pertanian.

Dalam rilis tersebut, Mardianto menjelaskan bahwa ada sembilan kecamatan yang mengalami dampak signifikan akibat banjir. Kesembilan wilayah itu meliputi Kecamatan Koto XI Tarusan, IV Nagari Bayang Utara, Bayang, IV Jurai, Batang Kapas, Sutera, Lengayang, Ranah Pesisir, serta Linggo Sari Baganti.

“Bencana ini merendam banyak area pertanian produktif. Sembilan kecamatan tersebut mencatat kerusakan cukup parah, baik pada tanaman pangan, hortikultura, maupun sektor peternakan,” ujar Mardianto.

Berdasarkan data dinas, total tanaman padi yang terdampak mencapai 1.405,97 hektare. Selain itu, tanaman jagung seluas 305 hektare juga terendam, diikuti komoditas sayuran seluas 2,40 hektare yang ikut mengalami kerusakan.

Untuk sektor peternakan, banjir membawa dampak besar terhadap populasi ternak milik warga. Tercatat 80 ekor itik dan 380 ekor ayam hanyut atau mati akibat tingginya debit air. Sementara untuk sapi dan kambing, tidak ada laporan kehilangan, tetapi kandang dan fasilitas pendukung banyak yang rusak.

Secara keseluruhan, total area yang terdampak banjir mencapai 1.789,37 hektare. Dari jumlah tersebut, 37 hektare dinyatakan puso atau mengalami gagal panen total, sehingga tidak dapat diselamatkan dalam proses pemulihan.

Kerugian sektor pertanian diperkirakan mencapai Rp5,9 miliar lebih, sementara kerugian di sektor peternakan ditaksir sekitar Rp668 juta. Total estimasi kerugian keseluruhan mendekati Rp6,5 miliar dalam rentang waktu empat hari bencana.

“Data ini merupakan rekapitulasi dari 23 hingga 27 November 2025 dan akan terus diperbarui seiring masuknya laporan dari lapangan,” tutup Mardianto.

Dinas Pertanian memastikan akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan pihak terkait untuk melakukan langkah pemulihan, termasuk pendataan ulang, bantuan benih, serta dukungan bagi peternak yang kehilangan ternak.