• info@pesisirselatan.go.id
  • Hours: Mon-Fri: 8am – 4pm
Berbagai Kebutuhan Pokok Masih Terjangkau di Pessel, Beras Lokal Tetap Menjadi Pilihan Warga Untuk Dikonsumsi

27 Oktober 2020

521 kali dibaca

Berbagai Kebutuhan Pokok Masih Terjangkau di Pessel, Beras Lokal Tetap Menjadi Pilihan Warga Untuk Dikonsumsi

Pesisir Selatan--Walau masih dalam masa pandemi Covid-19, namun berbagai berbagai kebutuhan pokok di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) terpantau relatif aman, mencukupi dan juga stabil.

Berbagai kebutuhan pokok tersebut diprediksi juga akan tetap stabil hingga akhir tahun. Sebab semua kebutuhan bahan pokok tersebut, sebagian besarnya berasal dari produksi masyarakat petani, termasuk juga beras.

Herman 53, pedagang beras di Pasar Kambang Kecamatan Lengayang mengatakan Selasa (27/10) bahwa masyarakat di kecamatan itu lebih memilih beras lokal ketimbang beras luar.

Dijelaskannya bahwa di kecamatan itu selain beras lokal, juga ada dijual beras yang berasal dari luar daerah, terutama sekali beras solok, dan beras pariaman.

"Namun beras lokal masih tetap menjadi tuan rumah dan sangat diminati oleh masyarakat. Sebab selai harganya terjangkau, kualitasnya juga cukup bagus," katanya.
 
Dia menjelaskan beras lokal yang berasal dari hasil panen petani di kecematan itu, untuk kualitas menengah jenis banang pulau dan 42 di tingkat konsumen masih berkisar Rp 10.500 per kilogram. Sedangkan untuk kualitas bagus Rp 11.500 per kilogram.

"Rata-rata masyarakat di kecamatan ini hanya mengkonsumsi beras lokal. Sebab selain hasil panen mencukupi dan bisa dikatakan bisa untuk memasok kebutuhan daerah lain, masyarakat juga memiliki pilihan sesuai dengan selera dari berbagai jenis beras yang saya tawarkan ini," katanya.

Terjangkau dan juga mencukupi untuk kebutuhan masyarakat juga terjadi pada jenis cabai merah yang saat ini telah berada pada kisaran harga Rp 40 ribu per kilogram.

Hal itu diungkapkan Mawardi 53, pedagang cabai di Pasar Kambang Kecamatan Lengayang.

Dia menjelaskan bahwa saat ini panen cabai di daerah itu bisa dikatakan hampir merata di setiap kecamatan.

"Walau merata, namun panennya tidak melimpah sebagaimana dua bulan lalu. Karena tidak melimpah dan mencukupi untuk kebutuhan daerah, sehingga harganya berada pada kisaran Rp 40 ribu per kilogram. Harga di kisaran ini saya katakan cukup terjangkau. Karena bila kembali turun Rp 10 ribu per kilogram, akan membuat petani cabai kembali pula menjerit," ujarnya.
   
Walau demikian, dia tetap memprediksi harga cabai merah di daerah itu akan kembali turun dua bulan ke depan.

"Saya memprediksi turun, karena saat ini petani sudah kembali mulai berlomba-lomba menanan cabai di semua kecamatan di daerah ini. Sesuai hukum alam, bila hasil panen melimpah maka harga akan anjlok, sebaliknya apabila hasil panen sedikit, harga akan pula melambung," ungkapnya.
 
Dia juga menjelaskan bahwa bawang merah saat ini sudah berada pada kisaran Rp 20 ribu hingga Rp 25 ribu per kilogram, demikian juga dengan bawang putih yakni Rp 20 ribu per kilogram di tingkat konsumen.

"Perbedaan harga itu tergantung pada jenis dan kualitas. Tomat juga masih tergolong stabil dengan harga Rp 8 ribu per kilogram, kol Rp 4 ribu per kilogram, kacang kedelai Rp 10 ribu  kacang tanah Rp 24 ribu, ubi kayu Rp 3 ribu, ubi jalar 5 ribu, dan kentang Rp 10 ribu," jelasnya.

Terkait dengan keberagaman ketersediaan bahan pokok yang cukup stabil dan mencukupi itu, Kepala Dinas Pangan Pessel, Alfis Basyir, ketika dihubungi menjelaskan bahwa pihaknya melalui petugas akan terus melakukan pemantauan terhadap berbagai jenis kebutuhan pokok di daerah itu.

"Untuk memberikan rasa nyaman dan aman kepada masyarakat terutama dalam memberikan jaminan ketersediaan bahan pokok, kami melalui petugas terus melakukan pemantauan di lapangan. Pemantauan ini tidak saja dilakukan dalam situasi aman sebelum pandemi Covid-19 terjadi, tapi juga disaat pandemi sebagaimana saat ini," katanya.

Dijelaskannya bahwa melalui pemantauan pasar dan harga itu, maka kekuatiran masyarakat terhadap kelangkaan dan lonjakan harga bisa dilakukan antisipasi secara dini.

"Salah satu upayanya adalah melalui operasi pasar sebagaimana dilakukan pada tahun-tahun sebelumnya. Namun khusus beras, kebutuhan masyarakat lokal sangat mencukupi. Sebab masyarakat masih cendrung mengkonsumsi beras lokal, ketimbang beras yang diimpor dari luar daerah," timpalnya. (05)