Pesisir Selatan--Agar keterbatasan lahan budidaya yang tidak seimbang dengan luas daerah sebagaimana terjadi di Kabupaten Pesisir Selatan tidak membuat masyarakat menjadi miskin, maka harus disikapi dengan peningkatan produktivitas.
Harapan itu disampaikan sekretaris daerah kabupaten (Sekdakab) Pesisir Selatan, Erizon Rabu (9/9).
Sebab dengan luas wilayah Pessel 579 ribu hektare, yang bisa diolah dan dikembangkan oleh masyarakat untuk kegiatan ekonomi hanya seluas 164 ribu hektare, atau 28,42 persen saja.
Akibat dari terbatasnya kawasan yang bisa diolah dan dimanfaatkan oleh masyarakat tersebut, sehingga membuat produktivitas masyarakat di daerah itu menjadi rendah.
Dia menjelaskan bahwa kawasan konservasi dan hutan lindung tersebut terdiri dari HSAW dan CB seluas 290 ribu hektar, dan Hutan Lindung seluas 41 ribu hektar pula.
"Karena begitu luasnya kawasan hutan konservasi dan hutan lindung di Pessel, sehingga mengakibatkan terbatasnya ketersediaan lahan yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan pertanian dan perkebunan. Makanya harus diimbangi dengan produktivitas supaya keterbatasan lahan itu tetap bisa memberikan kesejahteraan bagi masyarakat," ujarnya.
Ditambahkan lagi bahwa kawasan budidaya itu terdiri dari hutan produksi sebesar 4.000 hektar, hutan produksi yang dapat dikonversi 2.000 hektar, hutan produksi terbatas seluas 71 ribu hektare, dan sisanya baru masuk ke areal penggunaan lain (APL).
Namun disisi lain, dikatakannya bahwa luasnya kawasan hutan konservasi dan hutan lindung, juga berpotensi besar terhadap ketersediaan sumber air.
"Ketersediaan air itu, akan bermanfaat oleh masyarakat untuk kelangsungan hidup dan pengairan pertanian, termasuk juga air bersih dan lain sebagainya," tutupnya Erizon. (05)