Pesisir Selatan--Komunitas Lengayang Bike Club (LBC) gowes ke monumen tugu uang di Kampung Koto Pulai, Nagari Kambang Timur, Kecamatan Lengayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat (Sumbar).
Kegiatan yang digelar sambil bersepada santai guna menelusuri dan melihat secara dekat peninggalan sejarah pusat percetakan uang yang diabadikan dalam bentuk monumen itu, digelar Minggu (19/7).
Penggiat LBC, Rozi Kaveri, mengatakan kepada pesisirselatan.go.id Senin (20/20 bahwa melalui kegiatan itu, maka generasi muda dan pecinta olahraga bersepeda yang tergabung pada LBC, akan mengenal lebih dekat lagi bagaimana perjuangan para pendahulu bangsa di daerah itu untuk bisa bertahan di masa penjajahan dulunya.
"Menelusuri jejak bersejarah di masa lalu melalui kegiatan napaktilas yang digelar oleh Komunitas LBC, akan memberi dampak positif dalam meningkatkan pengetahuan tim terhadap sejarah perjuangan bangsa. Beranjak dari tujuan itu, sehingga kami melakukan kunjungan ke Kampung Koto Pulai, di Nagari Kambang Timur dengan bersepeda," katanya.
Dia menjelaskan setelah melakukan start di depan kantor Telkom Kambang Kecamatan Lengayang pukul jam 07.00 BIB menuju Kampung Koto Pulai, rombongan menyempatkan diri di Kampung Koto Baru melakukan istirahat sejenak sambil menikmati sarapan pagi.
Dijelaskan Rozi bahwa Kampung Koto Pulai berjarak sekitar 16 kilometer dari pusat ibu kota Kecamatan Lengayang di Pasar Kambang.
Untuk bisa sampai ke tugu perjuangan yang terdapat di Kampung Koto Pulai itu, rombongan akan melewati beberapa kampung mulai dari Kampung Talang, Tebing Tinggi, Medan Baik, Koto Baru, Kalumpang, Kapau, Koto Kandis, dan Kampung Pauh.
Pemandangan alam yang hijau disepanjang jalan serta juga aliran sungai yang jernih di sisi kiri menuju Kampung Koto Pulai, akan membuat rasa lelah bisa terobati.
"Namun untuk sekedar mencari jalur yang ekstrim, komunitas LBC
ketika sampai dipendakian Jembatan Kalumpang, belok kanan menuju arah SMA Negeri 3 Lengayang. Di jalur ini kami dihadapkan dengan pendakian yang lumayan terjal dan penurunan sedikit curam. Jalan alternatif ini diinisiasi oleh Zainal Sikumbang, mantan Wali Nagari Kambang, sebelum dilakukan pemekaran menjadi sembilan nagari sebagaimana saat ini," katanya.
Dia juga menjelaskan bahwa jalan yang belum tuntas pembangunanya itu, sebenarnya bisa dijadikan sebagai jalan alternatif menuju Kampung Tampunik, dan juga sebaliknya sebagaimana tujuan dibangun sebelumnya.
Dari rute itu, dikatakannya gowesnya menuruni bukit yang lumayan licin sampai di Kampung Tampunik.
Sepuluh menit berikutnya perjalanan gowes LBC akhirnya sampai di Bendung Irigasi Koto Kandis.
Dengan terus berpacu mendayung sepeda sekitar 3 kilometer dari Bendung Irigasi Koto Kandis, team LBC akhirnya sampai juga di Kampung Koto Pulai.
"Di Kampung Koto Pulai inilah kita bisa menemui monumen atau tugu bersejarah dengan tiga pantung pejuang. Pada tugu ini terlihat ukiran mata uang Rp 25 dan Rp 50 yang dikenal di masa lalu dengan nama Oeang Lengayang. Tugu yang terlihat masih terawat itu, dibangun pada lahan seluas 15 meter persegi dengan memiliki tinggi 4 meter dan lebar 1,5 meter," ujarnya.
Karena Kampung Koto Pulai menyimpan sejarah masa lalu perjalanan bangsa, sehingga dia mengajak para pemuda dan generasi penerus di kecamatan itu untuk tetap bisa mempertahankan semua bukti-bukti sejarah yang masih ada.
"saya berharap ke depanya kampung ini bisa dijadikan sebagai kampung wisata sejarah di daerah ini," tutupnya. (05)